Nekat Naik Anak Krakatau demi FOMO, Puluhan Wisatawan Abaikan Status Siaga

- Penulis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Semburan lava Gunung Anak Krakatau. Gunung api ini berstatus Siaga (Level III) sejak 9 Oktober 2026. (Foto: Pemprov Lampung via Wikimedia Commons)

Semburan lava Gunung Anak Krakatau. Gunung api ini berstatus Siaga (Level III) sejak 9 Oktober 2026. (Foto: Pemprov Lampung via Wikimedia Commons)

Puluhan wisatawan nekat mendaki Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda demi konten media sosial, meski gunung api itu berstatus Siaga (Level III) dengan larangan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Fenomena takut ketinggalan momen atau FOMO (fear of missing out) diduga menjadi motif di balik aksi berbahaya tersebut.

Temuan rombongan wisatawan yang memasuki kawasan terlarang ini membuat Pos Pantau Gunung Anak Krakatau memperketat koordinasi pengawasan dengan BPBD, Dinas Pariwisata, dan pemerintah daerah. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keinginan mendapatkan foto atau video yang menarik tidak seharusnya mengalahkan pertimbangan keselamatan.

Kepergok Petugas Saat Perawatan Alat

Keberadaan rombongan wisatawan itu terdeteksi saat petugas Pos Pantau melakukan pemeliharaan berkala pada peralatan pemantauan di lereng gunung. Kelompok tersebut sempat membuat video dan swafoto di kawasan cagar alam yang terlarang sebelum akhirnya turun setelah menyadari kehadiran petugas.

ADVERTISEMENT

KOL Management

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengonfirmasi terjadinya pelanggaran zona larangan oleh rombongan tersebut. Ia menduga rombongan wisatawan menyewa kapal dari Dermaga Canti menuju Pulau Sebesi sebelum kemudian mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Namun dugaan itu masih perlu didalami, termasuk jalur yang digunakan wisatawan hingga bisa memasuki kawasan terlarang.

Baca Juga :  Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Tiba di Tanjung Priok, Perkuat Kemampuan Maritim Indonesia

“Bagaimana wisatawan bisa masuk ke kawasan tersebut masih kami dalami,” ujar Andi. Pemerintah kecamatan sebelumnya juga telah mengeluarkan imbauan larangan beraktivitas di sekitar kawasan Dermaga Canti.

Status Siaga Sejak 9 Oktober

Badan Geologi Kementerian ESDM resmi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung sejak Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB. Keputusan diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap peningkatan aktivitas vulkanik sejak awal Oktober 2026.

Selama periode 6 hingga 9 Oktober 2026 tercatat 14 kali erupsi. Puncak intensitas terjadi pada Jumat (9/10) dengan sembilan kali letusan, yakni pukul 16.17, 16.30, 18.28, 18.34, 18.35, 18.44, 18.45, 19.07, dan 19.10 WIB. Pada erupsi pukul 18.28 WIB, kolom abu vulkanik teramati mencapai ketinggian sekitar 1,8 kilometer dan bergerak ke arah barat daya menuju Samudra Hindia.

Seiring kenaikan status, Badan Geologi melarang masyarakat, wisatawan, dan pendaki memasuki atau beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Larangan juga berlaku dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara gunung. Potensi bahaya yang mengintai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, hingga erupsi sekunder akibat kontak panas lava dengan air laut maupun air hujan.

Baca Juga :  Kelompok Massa Datangi UGM Tuntut Bukti Keaslian Ijazah Jokowi

Pengawasan Diperketat

Untuk mencegah kejadian serupa, Pos Pantau Gunung Anak Krakatau telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pariwisata, serta pemerintah daerah. Koordinasi itu dilakukan untuk memperketat pengawasan sekaligus meningkatkan sosialisasi mengenai larangan memasuki zona bahaya.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mengimbau masyarakat di wilayah pesisir untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan Maturidi menegaskan masyarakat secara umum masih dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa dengan mengikuti arahan petugas.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menilai kenaikan status ini harus dipahami sebagai langkah kewaspadaan dan mitigasi dini, bukan alasan untuk panik. Ia meminta masyarakat menghormati rekomendasi PVMBG Badan Geologi dan tidak mudah mempercayai isu yang menyebutkan erupsi Anak Krakatau akan menyebabkan tsunami.

Sumber Berita : rctiplus.com, viv.co.id, hariannarasi.com, korankota.co.id

Berita Terkait

Dikejar Warga Usai Melakukan Aksi Curanmor, Dua Pencuri Motor di Koja Alami Kendala Mesin
Polisi Usut Kasus 2 Bocah di Jakbar Diculik Saat Hendak Les, Kalung Emas Dirampas Pelaku
Polisi Amankan Ribuan Liter BBM Usai Bongkar Penimbunan Solar Subsidi di Serang
Berawal dari Aduan Warga, 1.482 Botol Miras Disita dari Toko Kelontong di Terminal Cibinong
Polisi Apresiasi Kewaspadaan Warga yang Amankan Pria Diduga Transaksi Narkoba di Bogor
Dipicu Teguran Pulang Malam, Kasus Anak di Bogor Bunuh Ayah Kandung Ditangani Polisi
Modus Pekerjaan Dini Hari, Kasus Fotografer di Bogor Kena Tipu Daya Begal Jadi Perhatian Polisi
Korban Ceritakan Kepanikan Saat Kebakaran di Kebayoran Lama Melanda Pemukiman
Berita ini 4 kali dibaca
Puluhan wisatawan nekat mendaki Gunung Anak Krakatau demi konten media sosial meski gunung api itu berstatus Siaga (Level III). Petugas memperketat pengawasan kawasan terlarang.

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Nekat Naik Anak Krakatau demi FOMO, Puluhan Wisatawan Abaikan Status Siaga

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Dikejar Warga Usai Melakukan Aksi Curanmor, Dua Pencuri Motor di Koja Alami Kendala Mesin

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:27 WIB

Polisi Usut Kasus 2 Bocah di Jakbar Diculik Saat Hendak Les, Kalung Emas Dirampas Pelaku

Rabu, 30 September 2026 - 11:24 WIB

Polisi Amankan Ribuan Liter BBM Usai Bongkar Penimbunan Solar Subsidi di Serang

Selasa, 29 September 2026 - 11:55 WIB

Berawal dari Aduan Warga, 1.482 Botol Miras Disita dari Toko Kelontong di Terminal Cibinong

Jumat, 25 September 2026 - 10:43 WIB

Dipicu Teguran Pulang Malam, Kasus Anak di Bogor Bunuh Ayah Kandung Ditangani Polisi

Kamis, 24 September 2026 - 11:48 WIB

Modus Pekerjaan Dini Hari, Kasus Fotografer di Bogor Kena Tipu Daya Begal Jadi Perhatian Polisi

Rabu, 23 September 2026 - 13:56 WIB

Korban Ceritakan Kepanikan Saat Kebakaran di Kebayoran Lama Melanda Pemukiman

Berita Terbaru