Kabar duka datang dari industri kecantikan Indonesia. Pendiri Martha Tilaar Group sekaligus tokoh di balik merek kosmetik Sariayu, Martha Tilaar, meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026) pukul 06.22 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, dalam usia 89 tahun.
Kabar wafatnya Martha disampaikan keluarga besar Martha Tilaar Group melalui akun Instagram resmi. “Dengan duka cita yang mendalam atas berpulangnya pendiri dan panutan kami,” tulis keluarga dalam pernyataan tersebut.
Jenazah disemayamkan di rumah keluarga di Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Keluarga menjadwalkan ibadah tutup peti pada Kamis (15/10/2026) dan pemakaman di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, pada Jumat (16/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dirawat 9 Hari, Asma Diperparah Polusi
Putra sulung Martha, Bryan Tilaar, mengungkapkan sang ibunda sempat menjalani perawatan di RS Medistra selama sembilan hari sebelum wafat. Martha masuk rumah sakit pada 4 Oktober 2026, awalnya karena asma.
“Kurang lebih plus-minus sudah sembilan malam ya, awalnya tuh asma,” ungkap Bryan di rumah duka, Rabu (14/10/2026).
Menurut Bryan, kondisi Martha yang menurun juga dipengaruhi polusi udara. Selain asma, Martha juga sempat mengalami perdarahan pada saluran pencernaan yang pernah dialaminya sekitar satu setengah tahun sebelumnya.
“Karena ini polusi udara dan sebagainya kacau balau ini kan. Namanya sudah usia 89 kan mungkin sangat rentan beliau gitu ya,” jelas Bryan.
Dari Garasi 6×4 Meter ke Raksasa Kosmetik
Martha Tilaar lahir dengan nama Martha Handana di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Sebelum merintis bisnis, ia bekerja sebagai guru sekolah dasar dan sempat mengajar di IKIP Jakarta.
Setelah menimba ilmu kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, Martha membuka salon seluas 6 x 4 meter di garasi rumah ayahnya di Menteng, Jakarta, pada 1970. Tujuh tahun kemudian, ia menggandeng Kalbe Farma untuk mendirikan PT Martina Berto yang kemudian meluncurkan Sariayu sebagai produk pertamanya.
Pada 1999, kelompok usaha Martha mengambil alih kepemilikan Martina Berto dari Kalbe, dan pada 2011 perusahaan itu melantai di Bursa Efek Indonesia. Sariayu dikenal lewat koleksi yang mengangkat kekayaan alam dan budaya daerah, dari Sumatra, Bali, Toraja, hingga Papua.
Atas kiprahnya, Martha menerima gelar Perekayasa Utama Kehormatan dari BPPT pada 2012 serta Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah pada 2016. Industri kecantikan Indonesia kehilangan salah satu perintis terbesarnya.
Sumber Berita : kompas.com, cnnindonesia.com, grid.id, cantika.com, fortuneidn.com









