Kondisi pasar komoditas global sedang mengalami guncangan setelah harga emas dunia terkoreksi tajam lebih dari satu persen pada perdagangan hari Selasa waktu Amerika Serikat. Penurunan ini membawa harga emas ke level psikologis USD 5.028,43 per ons, sebuah angka yang mencerminkan fase konsolidasi investor setelah reli panjang sebelumnya. Pelemahan ini tidak hanya terjadi pada pasar fisik, tetapi juga merembet ke pasar berjangka di mana kontrak pengiriman April ikut merosot seiring dengan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi negara adidaya.
Baca Juga : Nama Pejabat dan Pengusaha Indonesia dalam dokumen Epstein
Pemicu utama di balik fenomena emas dunia terkoreksi tajam ini adalah sikap hati-hati para pemegang modal menjelang rilis data pekerjaan nonfarm payroll dan Indeks Harga Konsumen atau inflasi Amerika Serikat. Data ini menjadi sangat krusial karena akan menjadi kompas utama bagi Bank Sentral AS atau The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga mereka di tahun 2026. Meskipun saat ini terdapat ekspektasi pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali, pasar tetap memilih untuk menarik sebagian keuntungan atau melakukan aksi ambil untung sembari menunggu kepastian angka pertumbuhan ekonomi yang diprediksi melambat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain faktor data makroekonomi, dinamika di pasar ritel Amerika Serikat yang cenderung stagnan juga memberikan tekanan psikologis tambahan bagi aset aman atau safe haven. Meski demikian, potensi penurunan lebih dalam masih tertahan oleh pelemahan indeks dolar AS dan ketegangan geopolitik yang masih menyelimuti beberapa kawasan dunia. Level psikologis USD 5.000 per ons kini dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir bagi harga emas untuk tetap menjaga tren penguatannya di tengah volatilitas yang tinggi.
Baca Juga : clippervideoid Membantu Brand Menjaga Kualitas Visual Secara Stabil
Koreksi ini nyatanya tidak hanya menyerang emas, karena logam mulia lainnya seperti perak juga mengalami kejatuhan yang cukup signifikan hingga lebih dari tiga persen ke level USD 80,83 per ons. Logam industri seperti platinum dan paladium pun tidak luput dari tren negatif tersebut dengan mencatatkan kehilangan nilai masing-masing lebih dari satu persen. Bagi para investor, periode emas dunia terkoreksi tajam ini dipandang sebagai momen krusial untuk mengatur ulang portofolio investasi mereka, mengingat pergerakan harga ke depan akan sangat bergantung pada seberapa agresif kebijakan moneter yang akan diambil oleh otoritas keuangan global dalam merespons inflasi.









